Prospek Perkebunan Dan Investasi Kayu Sengon Di Desa Glingseran

Prospek Perkebunan Dan Investasi Kayu Sengon Di Desa Glingseran

Glingseran: Sejak beberapa tahun terakhir, tanah tegal atau perkebunan milik warga ditanami kayu sengon (Albizia Chinensis). Sekitar tahun 2003 hingga sekarang hampir 75% tanaman sengon menjadi salah satu alternatif baru dan menjadi primadona investasi di Desa Glingseran, dikarenakan masa tanam yang sangat cepat dan juga masa tebang kayu sengon yang hanya berkisar antara 5 hingga 6 tahun. Selain itu, harga kayu sengon juga relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil pertanian lainnya.

Meskipun tanaman kayu sengon baru bisa ditebang minimal setelah berumur 5 tahun, namun dalam kurun waktu tersebut perkebunan sengon per ha bisa menghasilkan Rp.500 juta dan apabila dihitung perbulan, rata-rata penghasilan petani sengon dengan luas 1 ha bisa mencapai Rp 8 juta per bulan, tidak kalah dengan gaji pegawai. Selain itu, dalam jangka panjangpun pemasarannya akan tetap terjamin. Menurut Pak Tori sebagai warga Desa Glingseran, hasil perkebunan kayu sengon merupakan pendapatan terbesar bagi warga jika dibandingkan dengan hasil perkebunan lainnya, misalkan tembakau dan jagung. Sedangkan menurut warga lainnya yaitu Pak Sutamar, sejak warga Desa Glingseran menanam kayu sengon, perekonomian masyarakat di desa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, hal tersebut berimbas pada kesejahteraan bagi masyarakat. (28/10)

Hingga saat ini, bisnis perkebunan kayu sengon menjadi pilihan yang sangat menguntungkan bagi para petani di Desa Glingseran. Hal tersebut dikarenakan permintaan dan harga jual yang semakin tahun semakin meningkat. Selain itu, kayu sengon tidak hanya bisa dijual ke pelaku industri kayu saja, tetapi banyak warga sekitar yang pengepul kayu sengon untuk dikrim ke pabrik. Di samping itu, ada juga warga yang menginvestasikan uangnya dalam bentuk kayu sengon, dengan cara membeli sengon muda yang masih berumur sekitar 2 hingga 3 tahun dengan sistem kontrak ke petani. Hingga kayu sengon memasuki waktu panen, dalam jangka waktu tersebut pemilik modal bisa mendapat keuntungan hampir 2 kali lipat dari modal. Resiko yang ditanggung investor bisa dikatakan hampir tidak ada, karena kayu sengon tidak terdapat hama. Satu-satunya hama adalah karat puru yang muncul pada dahan dalam bentuk benjolan besar, selain itu sengon cukup mudah untuk dibudidayakan.

Untuk prospek kedepannya, kayu sengon bisa berfungsi sebagai tabungan desa, bukan hanya sebagai mata pencaharian. Sawah akan tetap menjadi mata pencaharian utama bagi warga desa, sedangkan ladang akan ditanami kayu sengon. Begitu banyak pilihan untuk sukses, begitu luas lahan perkebunan di Desa Glingseran yang masih terlantar. Dengan perkebunan kayu sengon, Desa Glingseran bisa hijau dan juga menambah perekonomian bagi masyarakatnya. (a.y)

penulis : Tim Jurnalis Warga Glingseran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Skip to toolbar