Kepedulian Guru Atasi Perilaku Membolos pada Siswa

Kepedulian Guru Atasi Perilaku Membolos pada Siswa

 Glingseran, Bondowoso:  Pergi ke sekolah merupakan suatu hak sekaligus kewajiban sebagai sarana mengenyam pendidikan dalam rangka meningkatkan taraf kehidupan yang lebih baik. Sangat disayangkan, kenyataan yang terjadi justru banyak para siswa yang membolos. Perilaku ini dilakukan dengan cara siswa tetap pergi dari rumah pada pagi hari dalam keadaan berseragam lengkap beserta tas yang berisi buku-buku pelajaran, tetapi mereka tidak berada di sekolah. Perilaku ini umumnya ditemukan pada remaja mulai tingkat pendidikan SMP.

 

Perilaku membolos tergolong tidak adaptif sehingga harus ditangani secara serius. Penanganan dapat dilakukan dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab munculnya perilaku membolos tersebut. Faktor pendukung munculnya perilaku membolos sekolah pada remaja ini dapat dikelompokkan menjadi 3, faktor sekolah, personal, serta keluarga. Faktor sekolah yang berisiko meningkatkan munculnya perilaku ini antara lain kebijakan mengenai pembolosan yang tidak konsisten, interaksi yang minim antara orang tua siswa dengan pihak sekolah, guru-guru yang tidak suportif, atau tugas-tugas sekolah yang kurang menantang bagi siswa. Faktor personal misalnya terkait dengan menurunnya motivasi atau hilangnya minat akademik siswa, kondisi ketinggalan pelajaran, atau karena kenakalan remaja seperti konsumsi alkohol dan minuman keras. Sedangkan faktor keluarga meliputi pola asuh orang tua atau kurangnya partisipasi orang tua dalam pendidikan anak. Ketiga faktor tersebut dapat muncul secara terpisah atau berkaitan satu sama lain. Pemahaman terhadap sumber penyebab utama sangat penting untuk mengatasi masalah ini.

 

Selanjutnya, faktor lain yang perlu diperhatikan pihak sekolah adalah kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di sekolah. Dalam menghadapi siswa yang sering membolos, pendekatan individual perlu dilakukan oleh pihak sekolah. Selain terkait dengan permasalahan pribadi dan keluarga, kepada siswa perlu ditanyakan pandangan mereka terhadap kegiatan belajar di sekolah, apakah siswa merasa tugas-tugas yang ada terlalu mudah sehingga membosankan dan kurang menantang atau sebaliknya terlalu sulit sehingga membuat takut bahkan frustasi.

 

Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk memperhatikan siswa sehingga mereka tertarik datang dan merasakan manfaat sekolah adalah dengan melakukan pengenalan terhadap apa yang menjadi minat tiap siswa, apa yang menyulitkan bagi mereka, serta bagaimana perkembangan mereka selama dalam proses pembelajaran. Dengan perhatian seperti itu, siswa akan terdorong untuk lebih terbuka terhadap guru, sehingga jika ada permasalahan, guru dapat segera membantu. Dengan suasana seperti itu, siswa akan tertarik pergi ke sekolah dan perilaku membolos yang mengarah pada kenakalan remaja dapat dikurangi.

 

Salah satu siswa yang mendapat kepedulian dari guru akibat perilaku membolos adalah Kholil, pelajar kelas 7 di SMPN 01 Wringin dengan jumlah catatan absen sebanyak 42 kali. Geram akan hal tersebut, Sujoto selaku wali kelas secara pribadi mendatangi rumah salah satu siswanya tersebut. Setelah diketahui, alasan utama Kholil membolos sekolah adalah takut kepada T. Kholil yang tinggal jauh dari orangtuanya mengaku takut dihukum duduk di lantai selama proses pelajaran berlangsung, karena tidak membawa kamus sebagai syarat mengikuti mata pelajaran guru tersebut. Malas juga kerap dirasakan oleh siswa berusia 13 tahun tersebut, sehingga datang ke sekolah menjadi hal yang terkesan sia-sia. Biasanya Kholil berangkat ke sekolah bersama dengan sang nenek berangkat ke ladang, tetapi setelah neneknya mulai bekerja, Kholil justru kembali ke rumah untuk tidur, tak jarang waktu membolos sekolah juga dihabiskannya dengan bermain.

 

Tak hanya guru, Sulaedi selaku kepala desa tak tinggal diam mengetahui salah seorang remaja di desanya kerap membolos sekolah. Pada hari yang sama, Sulaedi turut serta mendatangi rumah Kholil guna mengklarifikasi, ternyata jawaban yang sama juga diterima kepala desa tersebut ketika berusaha menanyakan alasan Kholil membolos. Kholil sendiri bertempat tinggal tidak jauh dari rumah kepala desa, sehingga hampir setiap kegiatannya diketahui dan terpantau secara langsung oleh kepala desa tersebut. “Kami mewakili sekolah dan masyarakat berharap Kholil akan terus bersekolah serta dapat belajar dengan baik”, ungkap Sulaedi. Sujoto juga berpesan bahwa sekolah bukan tempat yang harus ditakuti, guru tidak akan menghukum jika siswa tidak membuat kesalahan. Dukungan dari masyarakat khususnya keluarga sangat diperlukan dalam hal ini. (Selasa, 01/11/2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Skip to toolbar