Sejarah Perjuangan Pahlawan Bondowoso

Sejarah Perjuangan Pahlawan Bondowoso

 

Para pejuang muda Indonesia pada dekade 1970-1950 di hadapkan dengan banyak tantangan yang membutuhkan konsintensi untuk menghadapinya. Bila kita membaca sejarah makan akan banyak di temui para pejuang yang mengagumkan itu. Sangat layak untuk menambah refrensi gerakan bagi seluruh pemuda yang memutuskan untuk memberikan waktu hidupnya bagi kemajuan bangsa ini. Salah satu pejuang yang bisa dijadikan inspirasi bagi para pemuda untuk mengenang dan mengingat para pejuang kemerdekaan NKRI, iyalah para pemuda di Kabupaten Bondowoso.

Di tahun 1946, pasukan belanda dengan membonjeng pasukan sekutu kembali ingin memasuki indonesi. Kedatangan mereka ke Indonesia karena masih ingin menjadikan Indonesia sebagai Nederland indie. Kedatangan pasukan belanda ini di sambut para pejuang dengan perlawanan sengit. Dalam rengkaian perlawanan itu, Batalyon 9 bondowoso turut berperan dengan mengirimkan 2 kompi pasukanya ke front pertempuran Surabaya yang di tastikkan pada komandan CTC kolonel soeradjo. Mereka bahu membahu dengan pasukan lainya, berjuang mengusir pasukan belanda yang berusaha menduduki Surabaya.

Para pejuang bondowoso tak hanya henti di melakukan perjuanganya di kota Surabaya saja. Di saat pertempuran untuk mengusir pasukan belanda masih berkecamuk di Surabaya. Situasi di bondowoso mulai menghangat menyusul informasi akan adanya pendaratan pasukan belanda di pasir putih. Berdasarkan pengintaian yang di lakukan, kapal perang belanda memang melakukan aktifitas persiapan pendaratan di sekitar pantai pasir putih, muncar, dan panarukan.

Saat tentara belanda berhasil menguasai pantai pasir putih, muncar juga panarukan. Tentara Belanda juga dapat mengusai wilayah kota bondowoso. Sejak dikuasainya koto bondowoso oleh musuh, perlawanan muncul dari kelompok pejuang rakyat untuk kembali merebut kota bondowoso yang saat ini di kenal dengan kota Tape. Bentuk perlawanan ini di tunjukkan secara nyata oleh rakyat poler curahdamih. Dalam perlawanan itu 24 rakyat tercatat gugur, sementara di pihak musuh ada 8 orang yang hilang serta pasukanya kocar kacir melarikan diri.

Kendati peperangan terus berkecamuk di berbagai kancah, sehingga terjadi peristiwa gerbong maut. Salah satu veteran TNI Bondowoso Bapak soeradjhi menjelaskan waktu itu penangkapan dan penahanan pejuang menyebabkan penjara bondowoson tak mampu lagi menampungnya. Demi keamanan, 100 pejuang kemudian di pindah ke penjara kalisosok Surabaya pada 23 november 1948. Para pejuang di angkut dengan kereta api dari stasiun bondowoso menuju stasiun wonokromo Surabaya. Untuk pengangkutan tahanan pihak penguasa hanya menyediakan 3 gerbong sempit yang tidak memiliki ventelasi sedikitpun. Para pejuang di paksa berjejeran dalam suasana pengap. Para tahanan menggedor gedor pintu gerbong tapi tidak ada satupun jawaban dari para penjaga yang mengawal. Keesokan harinya saat gerbong di buka di wonokromo para tahanan tidak memiliki tenaga dan mulai berjatuhan. Dari 100 tahanan yang di angkut,46 di antaranya meninggal, 11 orang hamper mati, 31 orang dalam kondisi sakit, dan hanya 12 orang yang masih dalam keadaan sehat.

saat ditanyai mengenai pahlawan bondowoso yang sejajar dengan Sruji ( pahlawan kota jember ) bapak soeraji menyebut nama Mayor EJ Magenda. Komandan Magenda selama clash 1 & 2 tidak pernah makan nasi, kesukaanya hanya ketan (plotan) beliau sering tidak makan saat perjalanan. Karna persediaanya memang tidak ada. Mayor EJ Magenda yang biasa di panggil Pak Mick hanya terkadang makan jagung bakar, pisang godok dan kelapa muda. Sebagai pemimpin keberanianya terhitung saat luar biasa. Dalam berbagai medan pertempuran pada clash 1 beliau sering bekeliling menunggang kuda sambil memberikan instruksi pada masukan, selain itu beliau di kenal dengan kejujuranya. Dan di akhir perbincangannya, kepada kami ( informasi desa ) red. Beliau berpesan kepada kaula muda untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi era modern. Karna sebagain Negara Negara mulai menjajah kita dengan teknologi dan menyiapkan jiwa pemimpin untuk memimpin Negara Indonesia ini, sehingga Indonesia di pimpin bukan pemimpin asli pribumi.

penulis : Haeron Rizyal Zaerozi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">HTML</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Skip to toolbar